Keragaman suku, budaya, dan agama menjadi ciri khas utama Kota Tangerang. Suku Sunda, Betawi, Tionghoa, Jawa, dan Arab hidup berdampingan dengan harmonis, menciptakan mozaik budaya yang penuh warna. Toleransi dan saling menghormati antar budaya menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat Tangerang.
Keberagaman ini dapat dilihat dari banyaknya situs bersejarah yang tersebar di berbagai sudut kota. Salah satunya ialah Klenteng Boen Tek Bio yang merupakan rumah ibadah pertama etnis Tionghoa dan menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Klenteng Boen Tek Bio juga memiliki arti tersendiri, Boen diartikan sebagai intelektual, Tek merupakan kebajikan, dan Bio berarti tempat beribadah. Jadi, Boen Tek Bio merupakan tempat bagi manusia untuk berproses menjadi insan yang penuh dengan kebajikan serta berintelektualitas.
Klenteng Boen Tek Bio merupakan tempat ibadah yang sudah didirikan sekitar tahun 1684 oleh para penduduk Kampung Petak Sembilan. Sebelumnya, klenteng ini sudah di renovasi besar-besaran pada 1844 dan dipertahankan bangunannya hingga saat ini. Klenteng Boen Tek Bio pun bisa dikunjungi oleh seluruh wisatawan dari berbagai agama maupun luar Kota Tangerang. Tempat ibadah ini berlokasi di dekat Kalipasir, tepatnya Jalan Bhakti No.14, RT.001/RW.004, Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.
Dulunya, klenteng ini dibangun karena etnis Tionghoa sedang berlabuh di Teluk Naga, Tangerang dan menelusuri Sungai Cisadane. Selama menelusuri Sungai Cisadane, mereka akhirnya berhenti di kawasan Pasar Lama Tangerang dan memutuskan untuk membangun Klenteng Boen Tek Bio. Klenteng Boen Tek Bio dibangun secara gotong royong dan menjadikan klenteng ini sebagai tempat beribadah mereka.
Wisatawan yang mungkin mengunjungi Pasar Lama Tangerang akan menemukan Klenteng Boen Tek Bio ini berada di antara Masjid Jami Kalipasir dan Vihara Padumuttara. Hal ini merupakan bukti bahwa terjalinnya toleransi beragama di Kota Tangerang yang dimana Masjid Jami Kalipasir merupakan tempat beribadah umat muslim dan Vihara Padumuttara merupakan tempat beribadah umat Buddha. Sedangkan, klenteng sendiri merupakan tempat beribadah umat Konghucu atau Taoisme.
Bagi pengunjung yang mendatangi Klenteng ini pasti akan disuguhkan dengan bangunan yang dominan berwarna merah terang. Pada bagian atap terdapat empat naga yang saling berhadapan dan banyaknya lampion merah yang ikut menghiasi klenteng tersebut. Di halaman depan klenteng, pengunjung bisa melihat akan ada dua buah Tambur Batu atau Cioh Kou yang disumbangkan oleh Tan In Heng pada 1854. Selain itu, pada halaman klenteng ditemukan dua menara pembakaran kertas sembahyang bercat merah yang terletak di sisi kanan dan kiri halaman. Di bagian tengah antara menara pembakaran kertas terdapat dupa berwarna emas yang digunakan sebagai tempat pembakaran hio.
Selama berkunjung ke klenteng, pengunjung tidak perlu khawatir atau merasa takut dengan wangi yang semerbak. Pasalnya, wangi tersebut berasal dari asap hio yang telah dibakar. Hio dikenal juga dengan dupa yang merupakan salah satu atribut yang digunakan untuk sembahyang. Hio ini berbentuk lidi panjang dan berwarna merah.
Pada Klenteng Boen Tek Bio ini, pengunjung juga akan disuguhkan dengan beberapa macam altar yang telah diisi oleh pedupaan serta dewa dan dewi, seperti Thian Siang Seng Bo, Sam Kwan Thay Tee, Kong Tek Cun Ong, dan Hok Tek Ceng Sin. Namun, sayangnya altar ini tidak bisa dilihat lebih dekat. Pengunjung hanya bisa berkeliling dan melihat dari jarak jauh karena klenteng ini memiliki aturan-aturan yang berlaku untuk pengunjung.
Sebelum memasuki ke area altar, pengunjung akan melihat dua pintu berbentuk lingkaran yang terletak di sisi kanan dan kiri klenteng. Pintu tersebut merupakan jalan yang akan ditapaki pengunjung untuk berkeliling melihat altar. Pintu tersebut memiliki dua nama, yaitu di sisi kanan bernama pintu kesusilaan dan di sisi kiri bernama jalan kebenaran. Dua nama tersebut memiliki makna sendiri, yaitu menurut kepercayaan, setiap orang yang mengerti kesusilaan, pasti akan menuju jalan kebenaran.
Harga Tiket Masuk dan Jam Operasional
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Klenteng Boen Tek Bio tidak perlu khawatir tentang harga tiket masuk. Pasalnya, klenteng ini tidak memungut biaya apapun atau gratis untuk pengunjung apabila ingin masuk ke tempat ibadah ini. Namun, jika wisatawan membawa rombongan, maka diharapkan bisa bersurat terlebih dahulu kepada staf yang bekerja disana. Dengan melapor kepada staf, pihak klenteng ini akan menyiapkan tour guide untuk memandu dan menjelaskan secara menyeluruh tentang Klenteng Boen Tek Bio ini.
Dengan banyaknya wisatawan yang tertarik untuk berkunjung ke klenteng ini, maka pihak tempat tersebut memutuskan untuk tidak memiliki batasan jam operasional. Klenteng ini buka setiap hari selama 24 jam. Dengan demikian, pengunjung bisa mengeksplorasi lebih jauh dan dalam terkait klenteng ini. Pengunjung pun bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk mengambil foto terbaik.
Fasilitas yang Tersedia
Klenteng Boen Tek Bio memiliki area seluas 2.955 meter persegi, dengan 1.655 meter persegi di antaranya merupakan bangunan utama. Sisanya terdiri dari halaman, koridor, dan beberapa bangunan pelengkap. Tata letak klenteng terbagi menjadi empat bagian. Pertama, halaman yang berbatasan langsung dengan serambi dan ruang ibadah utama. Kedua bagian ini terletak di tengah klenteng dan dikelilingi oleh bangunan pelengkap yang membentuk formasi seperti huruf U terbalik.
Dengan tempat seluas ini, maka klenteng tersebut bukan hanya menyediakan tempat sembahyang. Klenteng Boen Tek Bio juga menyediakan beberapa fasilitas lain, seperti aula yang luas, toilet, kantor, dan juga minuman gratis untuk wisatawan yang berkunjung ke klenteng ini. Bagi pengunjung yang merasa lapar dan tidak membawa bekal, ada Pasar Lama Tangerang yang cukup berdekatan dengan Klenteng Boen Tek Bio ini. Pasar lama merupakan kawasan kuliner yang dipenuhi dengan penjual street food yang menyajikan berbagai jenis makanan.